“Sepenggal Kisah Kelamku”
Rintik hujan sore ini begitu deras dan menghatam seluruh tubuhku. Hujan itu membawaku ke tempat yang tak begitu asing dimataku. Seolah semesta sedang bersepakat untuk membawaku kembali ke tempat ini. Entah mengapa kakiku hanya berhenti di depan tempat tangga putih itu. Ribuan pertanyaan menghujam ku, yang kurasakan saat ini hanya perih. Ya, aku tak layak menginjakkan kaki di sini. Aku orang yang kotor. Aku orang yang ingkar kepada Tuhanku sendiri.
1 minggu sebelumnya...
Trngggg... Trngggggg...
Suara handphone yang nyaring itu berhasil buatku bangun kali ini.
“Siapa lagi ini?” gumamku merasa terusik.
“Hallo? Dengan siapa ini?” tanyaku sembari membuka jendela di ujung ruang.
“Apa betul ini Arina?” tanya seorang pria di balik telpon.
“Iya betul, saya sendiri Arina. Ada apa?” jawabku.
“Saya mau booking kamu untuk acara club nanti malam. Apakah kamu kosong untuk malam ini?” tanya pria tersebut.
“Iya, nanti saya free. Jadi saya bisa untuk malam ini. Nanti bisa ketemu dimana ya?”
“Saya jemput saja ke alamat mu, tolong share lokasi ya ke nomor ini.”
“Baik, nanti saya proses.”
“Terima kasih..” pria itu menutup obrolan telpon.
Aku terduduk lemas. Lagi-lagi aku menyetujui tawaran-tawaran itu. Kapan aku harus berhenti? Aku butuh uang. Hanya kalimat itu saja yang terngiang-ngiang di telingaku.
“Mamaahh....” Hanya itu yang bisa kusebut. Aku tak berdaya. Perlahan air mataku mulai jatuh. Aku menangis.
Inilah aku. Seorang kupu-kupu penghibur yang berada di tengah hiruk pikuk nya malam. Aku berada di perantauan karena aku harus bekerja sejak meninggal nya Papa. Gaji yang sedikit bagiku akan sangat kurang untuk biaya pengobatan Mama. Tanpa berpikir panjang pun, aku harus rela bekerja seperti ini.
Tok..tok...tok....
Aku segera bangkit dan mencuci mukaku. Siapa yang datang pagi-pagi buta begini? Perlahan pintu kamar ku buka. Ah sial. Ternyata Ibu yang punya kontrakan ini. Kali ini aku harus siap mendengar ocehannya lagi.
“Arina, ini total pembayaran 3 bulan ya. Saya minta kamu melunasi semua ini. Karena saya juga butuh makan.” Kata Ibu itu dengan sinis.
“B-baik, Bu. Saya akan berusaha melunasi.” Jawabku sambil mengambil nota itu.
“Bawa banyak laki mestinya kamu bisa ambil untung.” Ucap Ibu pemilik kontrakan itu dengan ketus.
Aku tertegun mendengar perkataan itu. Sebegitu buruk kah aku? Namun aku hanya mengangguk dan meng-iya-kan. Tak sedikit beban yang ku tanggung. Tak sedikit luka yang kuterima. Buah bibir dari orang sekitar sudah jadi makanan sehari-hari.
Sambil berbaring, aku menggenggam foto Papah. Aku rindu bercengkerama dengannya. Aku sangat rindu akan perlakuannya. Di saat semua tidak terjadi apa-apa. Bahkan aku belum bisa membahagiakannya.
“Pah... Rina kangen Papaahh...”
“Andai sekarang Papah tau keadaan Rina dan Mama gimana... Papa pasti ga akan ninggalin kita...”
Seketika foto itu, membawa memori pada kejadian 3 tahun yang lalu. Aku tak kuasa menahan tangis atas apa yang telah menimpa Papah. Sebuah kecelakaan berujung maut itu telah merenggut semua impianku. Membuat hati Mamah hancur, hingga Mamah seperti ini. Disitu aku hanya berfikir, apakah Tuhan itu nggak ada? Jika Tuhan ku ada, seharusnya kejadian ini tak menimpa kepadaku. Apakah ini adil?
Pukul 21.00 WIB
Trngggg.... Trngggg...
Bunyi nyaring ponsel pun terdengar lagi. Aku tau ini saatnya aku bersiap-siap untuk menemani pria itu.
“Hallo, dengan Arina disini.” Ucapku memulai percakapan.
“Hallo, Arina. Saya menuju tempat kamu 10 menit lagi. Saya harap kamu sudah siap ya..” kata pria itu.
“Baik, nanti tunggu di luar saja..”
“Iya, saya tunggu diluar.” Ucapnya menutup obrolan di telpon itu.
10 menit kemudian pria itu sampai di kontrakan ku. Aku yang melihat lampu sorot sebuah mobil pun langsung bergegas keluar. Tak ragu, aku pun masuk ke dalam mobil merah itu. Tampak seorang pengendara mobil menggunakan jaz dan celana jeans. Masker hitam melekat di wajahnya, hingga aku tak bisa mengenali siapa pria itu. Mobil pun melaju membelah jalan di kota.
“Sudah berapa lama kamu kerja kaya gini?” tanya pria itu.
Aku yang diam-diam memperhatikan pria itu pun terkejut mendengar pertanyaannya.
“Saya? Em... sekitar 2 tahun ini...” jawabku.
“Untuk tujuan apa kamu kaya gini?” pertanyaanya buatku tercengang kala itu.
“Untuk pengobatan Mama.. karena Mama sakit keras.” Jawabku. Mata yang tadinya berbinar, redup seketika. Kini suasana berubah jadi sendu.
Pria itu tak melanjutkan pertanyaannya lagi. Entah karena merasa bersalah, atau cukup tuk bertanya. Aku pun seketika tak melihat ke arahnya lagi. Hal ini mengingatkan ku pada Papah. Saat Papah masih hidup, akan ada jadwal jalan malam bersamanya ke kota. Sama hal nya dengan apa yang ku lakukan saat ini. Bercengkerama di mobil, sambil mendengarkan musik pop dan jaz.
Seketika aku terperanjat, karena pria itu tak membawaku ke jalan yang dituju. Ia justru membawaku ke arah Cafe terkenal di kota ini. Tulisan merah bertema “Sudut Coffee” itu pun mulai terlihat. Banyak pertanyaan yang melintas dipikiran ku. Saat aku hendak bertanya, pria itu turun dari mobil. Dengan terpaksa, aku pun berjalan mengikutinya.
“Kita duduk di sini...” dia mempersilahkan aku duduk dengan menarik salah satu kursi.
“Kenapa kita kesini?” tanyaku.
“Saya sudah menduga, pasti kamu akan bertanya. Relaksasikan dirimu dulu. Udara malam ini terasa sangat sejuk...” katanya, memutar topik pembicaraan.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Semilir angin malam itu mengalir bersama rasa penasaran yang tak tertahan, sebenarnya apa yang akan pria itu lakukan. Sambil memesan kopi, pria itu pun membuka obrolan.
“Rin... kamu udah merasa sangat lama disini?” tanya pria itu.
“Iya, sangat lama. Karena saya sendiri belum pernah pulang menemui Mamah..” jawabku.
“Selama ini kamu hanya mengirim uang? Dan nggak pernah tau keadannya?” tanya pria itu tanpa membuka masker nya.
“Iya.. aku selalu menanyakan kabar nya lewat sepupuku di sana. Tapi karena dia sibuk dengan kuliahnya, jadi jarang ke rumah untuk mengetahui kondisi Mama.”
“Arina... Kamu harus pulang sekarang... Mama butuh kamu...” ucapnya.
Seketika, perlahan aku mulai mengenali suara itu. Suara yang sudah tak kudengar bertahun-tahun. Suara yang tiap malam nya mengiringi jelang tidurku. Aku terkesiap, tak percaya akan takdir hari ini. Yang Maha Kuasa telah mempertemukan aku dengan orang yang selama ini aku cari keberadaannya. Aditya. Teman masa kecilku dulu.
“Bang Adit??” tanyaku.
“Kamu lupa sama aku, Rin? Bahkan kamu ga mengenali suaraku lagi.” Jawabnya sambil membuka masker hitam di wajahnya.
“Kamu kok bisa nemuin aku?? Kamu tau aku di sini darimana??” masih dengan keadaan tersentak aku terus bertanya.
“Panjang ceritanya, Rin. Yang penting aku bisa bawa kamu pulang.” Jawabnya dengan sedih.
“Kenapa aku harus pulang, Bang? Aku belum bisa bawa uang banyak buat Mamah.” Aku masih belum tau, mengapa dia mengatakan itu.
“Arina.. kamu tau? Kondisi Mama kamu semakin menurun..” ucapnya lirih.
“Apa?! Kenapa gak ada yang ngabarin aku??” aku berusaha tetap tegar.
“Fira PPL sekarang, Rin. Dia gak di rumah.” Jawabnya, berharap aku bisa pulang secepatnya.
“Oke... besok kita pulang, Bang.” Jawabku dengan air mata yang mulai meluap.
Keesokan harinya, di kampung halaman Arina.
Entah mengapa, perjalanan ku ke kampung halaman terasa sangat berat dan mengganjal. Rasa dingin yang menggigit mulai menerkam tubuhku. Apakah ada yang salah dengan kepulanganku ini? Sudah sekian purnama aku tak mengunjungi rumah ku sendiri. Aku hanya malu, karena kerja ku di luar kota tak banyak membuahkan hasil. Aku malu melihat muka Mamah, yang selalu berharap penuh padaku setelah Papah tiada. Apa yang nanti dikatakan Mamah jika aku tak berhasil di kota? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mulai menghatam diriku.
Gang menuju rumah ku sudah terlihat. Aku senang bisa kembali ke ruang masa kecilku. Tak lama kemudian terlihat rumah dengan cat tembok biru dan putih di ujung jalan. Tapi, mengapa ada bendera putih di depan rumah ku itu? Seketika pikiran ku hanya tertuju pada Mamah. Jantungku berdegup kencang melihat orang di sekitar mengenakan baju hitam. Aku langsung turun ke jalan ketika mobil Bang Adit berhenti. Entah mengapa tenggorokan ku terasa perih, seperti menahan air mata yang keluar.
“Mamah....!!!!” teriakku dari luar dan berlari ke dalam.
Aku tak percaya apa yang baru saja kulihat. Terlihat Mamah sudah terbujur kaku, terbungkus kain putih dan jarit-jarit di sebelahnya. Di sekitar Mamah, para kerabat dan tetangga menangis dan menunduk. Aku yang membeku di depan pintu tak menyangka apa yang sedang terjadi. Seolah-olah hal yang berada di ruangan itu hanyalah halusinasi ku saja.
“Ini sebuah mimpi.” Kata batinku.
“Rina... ini Mamamu, Nak. Ikhlaskan Mamah mu ya, Nak.” Ucap salah seorang tetangga yang berdiri disitu.
“Enggaa!! Mamah ga boleh ninggalin aku! Mamah belum ketemu aku! Mamah belum lihat aku!!” aku menangis dan terduduk lemas di depan jenazah Mamah.
“Rin.. Allah udah ngambil Mamah. Mamah udah cukup berjuangnya... Mamah kamu udah harus istirahat selamanya...” ucap Bang Adit sambil menahan tangis.
Seketika, pandangan di hadapanku kabur. Ruangan itu menjadi hitam. Aku tak ingat apapun saat itu. Aku pingsan. Hari itu menjadi hari terakhir ku bertemu dengan Mamah. Mamah yang sudah tak bernyawa itu. Aku tak sempat menyapa. Bahkan aku tak mendampinginya saat Mamah sedang dalam keadaan tersulit sekalipun. Aku benar-benar menyesal. Aku tlah berbohong pada Mamah, bahwa aku bekerja dengan cara yang halal. Aku sangat berdosa.
1 bulan kemudian
Aku berniat untuk mengunjungi makam Papah dan Mamah. Sampai di sana, aku hanya berdoa dan mohon kepada-Nya agar mengampuni semua kesalahan mereka selama di dunia. Hingga butiran air yang turun dari langit berguguran menyapu tanah. Aku langsung bergegas pulang dan mencari tempat tuk berteduh. Hujan yang turun itu membawaku pada tempat yang tak asing bagiku. Diriku yang merasa asing ini, mengajakku untuk masuk ke dalamnya. Batinku terus saja berteriak bahwa aku tak layak berada di tempat ini. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku dari belakang.
“Ayok, kita sholat. Sudah masuk waktu ashar nih.” Seru perempuan itu dengan kerudungnya.
Betapa terkejutnya aku setelah mengetahui perempuan tersebut. Ia adalah Fira, sepupuku yang setiap harinya menjenguk Mamah untuk memberikan kabarnya kepadaku. Dengan air mata penuh bahagia, aku pun menyetujui ajakannya. Ya Allah, aku tlah kembali kepada-Mu. Jika kembaliku ini adalah awal dari lembaran baruku, tolong istiqomah kan lah aku dijalan Mu. Ya Allah, terimalah taubat ku ini.